Melawan Kekerasan Atas Nama Agama

11 Tahun ICRP: Melawan Kekerasan Atas Nama Agama IDR70000.00
Sinopsis:

Indonesia adalah sebuah bangsa yang terbangun di atas struktur masyarakat yang plural, mulai dari suku, ras, etnis, bahasa, adat istiadat, serta agama. karakteristik dasar ini, oleh para founding fathers disematkan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sebuah slogan menyiratkan, Indonesia secara sosio-kultural, terdiri dari berbagai macamsuku bangsa, yang dengan hak kulturalnya masing-masing mengaku berada di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kondisi ini meniscayakan adanya sebuah kehidupan yang jauh dari dominasi identitas tertentu.
Dalam perjalannya, implementasi gagasan Bhineka Tunggal Ika menjadi terhambat karena kebijakan pemerintah yang kurang mempertimbangkan realitas keberagaman yang ada. Padahal, mengingkari pluralisme pada dasarnya mengingkari keberagaman yang ada, menutup pintu terciptanya kerukunan dan dialog antar umat beragama; yang dalam skala lebih besar akan berpotensi mengancam keutuhan bangsa dan negara.
sejak awal berdiri sampai dengan dasawarsa setelah reformasi berjalan, kebijakan (policy) pembangunan agama yang dibuat oleh setiap rezim pemerintahan dalam merespon isu-isu keagamaan seolah tidak pernah sungguh-sungguh tuntas dalam melindungi pluralitas bangsa. Tarik-menarik relasi antara agama dan negara, menjadi persoalan yang selalu menggantung.
persoalan agama dan politik adalah persoalan klise yang tidak pernah tuntas dalam setiap zaman. sejarah menunjukkan, betapa rumitnya mengurai benang kusut politisasi agama. betapapun, kita harus mengakui bahwa politik identitas Islam, naik bersamaan dengan terbukanya keran kebebasan berekspresi. Sentimen dendam sejarah kekalahan dalam sejarah pendirian negara, pembungkaman kelompok islamis oleh sebuah rezim Orde Baru, direproduksi dengan canggih sehingga menghasilkan spirit mayoritarianisme yang menyulap dukungan publik dan elite politik.
Hadirnya buku 11 Tahun ICRP: Melawan Kekerasan Atas Nama Agama ini, mencoba melihat secara komprehensif disertai dengan analisis kritis tentang perjalanan kebijakan pembangunan agama di Indonesia, berbagai polemiknya dalam menjaga pluralitas, harmoni sosial, serta intregritas bangsa. buku ini pun mencoba mengingatkan kita tentang berbagai persoalan terkait kebijakan pembangunan agama di Indonesia yang tak kunjung usai. Selamat membaca

Membangun Surga di Bumi

Membangun Surga di Bumi IDR68000.00
Sinopsis:

Sebuah tatanan masyarakat ditentukan dari bangunan unit-unit keluarganya. Jika tatanan keluarga tidak harmonis, tidak menghargai perbedaan, diskriminatif  serta penuh konflik akan berpengaruh terhadap individu di dalamnya dan masyarakat disekitarnya. Dan sebaliknya, keluarga harmonis akan melahirkan individu-individu yang bernilai karakter kuat dan toleran yang akan terbawa dalam lingkungan sosial masyarakatnya.
Karena itulah, keluarga mendapat posisi penting dalam perhatian ajaran Islam. Jika dibandingkan dengan hukum Islam yang lain, permasalahan keluarga mendapat perhatian lebih besar dengan pembahasan yang lebih rinci dan mendetail. Karena itu pula lahir berbagai karya yang membahas tentang kehidupan keluarga Islam dengan segala problematikanya. Begitu pula dengan buku yang berjudul Membangun Surga di Bumi ini. Buku karya intelektual muslim(ah) Prof. Dr. Musdah Mulia, M.A. ini menjadi berbeda dengan buku lainya. Karena buku ini melandaskan segala problematika pernikahan dan kehidupan keluarga dalam bingkai tauhid.
Musdah Mulia yang juga Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) ini setidaknya memberikan 6 prinsip besar untuk membangun sebuah surga di bumi sesuai dengan nilai-nilai tauhid yang diajarkan Rasulullah. Pertama, prinsip kemaslahatan (al-mashlahah). Seperti diungkapkan Ibn al-Qayyim al-Jawziyah, seorang tokoh Islam bermazhab Hanbali, syari’at Islam dibangun untuk kepentingan manusia dan tujuan universal seperti kemaslahatan (al-mashlahah), keadilan (al-’adl), kerahmatan (al-rahmat), dan kebijaksanaan (al-hikmah).
Kedua, prinsip kesetaraan dan keadilan gender (al-musawah al-jinsiyah). Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan seharusnya tidak perlu dipersoalkan. Tidak mengapa bahwa kodrat perempuan harus melahirkan, menyusui, mengasuh anak, dan sebagainya. Tetapi faktanya banyak problem baru muncul tatkala jenis kelamin melahirkan ketidakadilan perilaku sosial seperti posisi perempuan yang hanya boleh bekerja dalam wilayah domestik. Disinilah Musdah Mulia menekankan pentingnya memisahkan seks dan gender secara proporsional.
Ketiga, prinsip pluralisme (al-ta’addudiyyah). Setiap orang senantiasa hidup dalam ruang yang plural. Tidak hanya dalam ruang lingkup keluarga besar seperti masyarakat negara, bahkan dalam ruang lingkup keluarga, pluralitas juga dapat berlangsung. Pluralisme adalah sebuah keniscayaan karena manusia dalam fitrahnya memang diciptakan Allah SWT dalam bentuk, rupa, sifat, watak, dan perilaku yang berbeda-beda.
Keempat, prinsip nasionalitas (al-muwathanah). Telah sangat mafhum bahwa negara Indonesia berdiri dan tegak diatas basis nasionalitas (al-muwathanah). Bukan disusun diatas lembar agama tertentu atau suku dan etnis tertentu. Dengan menanamkan nilai nasionalitas dalm ruang lingkup keluarga, Indonesia tidak akan mengenal warga negara kelas dua. Tidak ada diskriminasi agama, suku, geografis, ekonomi, dll.
Kelima, prinsip penegakan hak asasi manusia (iqamat al-huquq al-insaniyah). Hak asasi manusia  adalah hak-hak yang dimiliki manusia karena terberikan (given) oleh Allah SWT. Hak asasi manusia merupakan segi-segi kemanusiaan yang pelu dilindungi dan dijamin terutama hak kaum lemah (mustadh’afin).
Keenam, prinsip demokrasi (al-dimuqratiyyah). Pada prinsipnya Islam dan demokrasi mengandung konsep yang selaras diantara keduanya. Beberapa konsep yang islam dan demokrasi yang perlu ditanamkan dalam keluarga adalah, egalitarianisme (al-musawah), kemerdekaan (al-hurriyah), persaudaraan (al-ukhuwwah), keadilan (al-’adalah), dan musyawarah (al-syura).
Akhirnya, Buku setebal 374 halaman ini patut untuk dibaca setiap keluarga di Indonesia sebagai kiat menciptakan keluarga yang harmonis, religius, nasionalis dan demokratis. [Muhammad Mukhlisin]

Sang Pelintas Batas

IDR80000.00
Deskripsi produk.............

Djohan Effendi adalah salah satu sosok penting dalam upaya pengembangan kehidupan keagamaan yang lebih dialogis, harmonis, dan toleran dalam era Indonesia modern. Kehidupan keagamaan—baik intra maupun antaragama—seperti itu tentu saja merupakan kebutuhan yang senantiasa harus diperjuangkan, bukan hanya untuk umat beragama itu sendiri, tapi juga untuk kepentingan keberlanjutan negara-bangsa Indonesia.
Kesediaan pak Djohan ikut berjuang menegakkan hak-hak kebebasan beragama di Indonesia tidaklah setengah-setengah melainkan all-out. Ini dilakukan beliau sejak jaman Orde Baru, hingga sekarang.

Modus Jual Beli Ilegal Skripsi-Tesis-Disertasi di Jogjakarta


Anda perhatikan di salah satu pusat perbukuan di jantung kota jogjakarta. Dengan sangat mudah kita dapatkan bertumpuk-tumpuk makalah kuliah/tugas mahasiswa bahkan Skripsi-Tesis-Disertasi yang diperjualbelikan secara bebas. Sudah lama kita tahu bahwa salah satu “cara pintas” untuk menulis atau mendapat bahan berharga dalam penyusuan skripsi/tesis/disertasi tersebut adalah dengan membeli laporan-laporan yang sudah ada di pusat perbukuan tersebut.
Saya lumayan lama mengamati, mengapa dengan mudahnya para pedagang di sana mendapat dan memperjualbelikan hasil jerih payah mantan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai macam perguruan tinggi tersebut? Apakah mahasiswa sendiri yang menjualnya? Atau ada sindikat terselubung yang bekerja selama ini dengan modus yang tak kasat mata.
Oke mari kita bahas satu per satu. Untuk modus yang melakukan mahasiswa sendiri saya pikir sangat kecil mereka yang melakukan. Karena walaupun ada itu mungkin sangat sedikit sekali dan bisa jadi terbentur masalah ekonomi yang mendesak. Karena kalau kita tanya dalam diri kita sendiri, apakah rela hasil jerih payah berbulan-bulan menulis skripsi/tesis/disertasi tersebut hanya akan dijual eceran di lapak-lapak dengan keuntungan yang tidak seberapa? Nah, modus yang kedua ini yang merupakan dugaan kuat saya. Dan ini saya dapatkan secara tidak sengaja mengamati ketika banyaknya mahasiswa yang sedang menggandakan skripsi/tesis mereka di tempat foto copy.
Modusnya begini. Mahasiswa ketika akan ujian tentu saja diminta untuk menggandakan kurang lebih empat rangkap, tiga untuk dosen penguji dan satu untuk dirinya. Dan untuk laporan akhir yang sudah selesai/fix akan digandakan kembali kemungkinan 1-3 rangkap. Jadi ada dua tahap mahasiswa melakukan penggandaan laporan akhir mereka tersebut.
Nah, tentu saja untuk menggandakan sebanyak itu mahasiswa tidak mungkin akan menunggu di tampat fotocopy bukan? Sehingga harus menunggu beberapa hari. Dugaan kuat saya ketika masa menunggu inilah kemungkinan ada oknum tempat fotocopy yang bekerja untuk menggandakan lebih dari yang diminta oleh mahasiswa. Sehingga oknum tempat fotocopy ini lah yang menjadi salah satu supplier dengan menjualnya ke pusat belanja buku tersebut! Saya pikir dugaan ini sangat masuk akal (walau tentu saja harus kita buktikan secara riil).
Sehingga, bagi yang akan bersiap menggandakan Skripsi-Tesis dan Disertasi. Hati-hati lah dalam menggandakan laporan akhir Anda, kalau tidak jangan heran selang beberapa waktu laporan akhir Anda tersebut sudah berada di tangan siapa saja. Bahkan sangat besar kemungkinannya jadi sumber plagiat oleh orang lain!

Apakah Bisnis Buku Akan Tergilas E-Book?


Bisnis buku merupakan salah satu bentuk bisnis media yang sudah hadir sejak lama. Selain buku, bisnis lain dalam kelompok media adalah majalah dan surat kabar. Dengan semakin tingginya penggunaan Internet, membuat semua yakin bahwa peran majalah dan surat kabar akan tergilas oleh media online ini. Tengoklah banyak surat kabar yang satu per satu sudah mengumumkan “pamit” dari bisnis konvensionalnya.
Sangat lumrah surat kabar akan tergantikan dengan Internet, karena surat kabar sifatnya memuat beragam informasi yang dipecah-pecah dalam beberapa kolom berita/informasi. Sehingga tidak semua berita di dalam surat kabar itu harus dibaca seluruhnya oleh pembaca. Sehingga terkadang hanya sebagian kecil dari surat kabar yang selalu dibaca oleh pembaca. Dengan kehadiran surat kabar online berbasis Internet, pembaca dapat dengan tepat sasaran untuk membaca sesuai berita yang diinginkan. Apalagi dengan menggunakan teknologi RSS reader, semakin membuat pembaca fokus dengan bidang tertentu yang akan selalu dibacanya. Sehingga tamatnya bisnis surat kabar media cetak memang tinggal menunggu bunyo lonceng kematiannya.
Namun bagaimana dengan bisnis buku? Bisnis buku yang merupakan salah satu bisnis dalam dunia cetak mencetak memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Mengapa demikian? Berbeda dengan suratkabar, buku berisi satu informasi utuh yang dibahas tuntas seluruhnya dalam buku tersebut. Sehingga dapat dipastikan hampir seluruh pembaca akan membaca tuntas buku yang dibelinya.
Sama halnya dengan suratkabar, saat ini semakin menjamurnya produksi buku dalam bentuk elektronik (e-book) yang memungkinkan kita membaca buku langsung dari komputer. Bahkan Amazon pun telah mengeluarkan pirantikindle sebagai piranti khusus untuk membaca buku, tablet PC dan bahkan iPad pun susah fit untuk digunakan seperti kindle. Akan tetapi kalau kita tanya secara pribadi, sebenarnya untuk membaca buku bagaimana pun akan tetap lebih enak dan nyaman membacanya tetap dalam format tercetak seperti biasanya. Mengapa demikian? Karena untuk membaca buku kita tidak bisa selesai dalam hitungan detik/menit seperti surat kabar. Buku dibaca secara bertahap dan bersambung, kadang di rumah, dilanjutkan di kantor, di bandara sambil menunggu pesawat bahkan sambil tiduran di kasur, kita tetap bisa nyaman membaca buku. Tapi kalau dalam bentuk elektronik, maka kita akan dihadapkan pada kekurangnyamanan seperti menyiksa mata dengan membaca langsung dari layar monitor (baik laptop/pc, iPad, PDA/Smartphone, kindle, dll). Bahkan dengan menggunakan iPad/Kindle pun kita tentu tidak seleluasa bila membaca dalam bentuk cetak yang bisa dilipat, kadang dibanting, bahkan sambil makan gorengan pun bekas minyaknya sedikit lengket di buku pun kita tidak terlalu khawatir. Tapi kalau menggunakan piranti komputer/kindle/iPad, tentu kita tidak bisa nyaman sambil tidurn (laptop/pc), dan bisa dibanting ke kasur/terjatuh (iPad/Kindle) karena tentu bakal merusak piranti elektronik tersebut. Apalagi untuk urusan dibawa-bawa di dalam tas ransel dll, tetap buku dalam format tercetak jauh lebih unggu dibanding berbentuk e-Book. Walaupun e-Book memiliki keunggulan penyimpanan yang sangat ringkas cukup dalam satu media penyimpanan. Tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan kenyamanan dan keleluasaan menggunakannya (membaca).
Oleh karena itu menurut kami, walaupun nantinya suratkabar cetak akan tamat riawatnya, buku akan tetap masih berusia cukup panjang ke depannya. Sehingga para stakeholder yang terlibat mulai dari penulis, penerbit, distributor, toko buku, percetakan tetap bisa berlanjut kehidupan bisnisnya.

Strategi Menghadirkan Buku Teks Kuliah Impor yang Murah


Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh perguruan tinggi di Indonesia adalah sulitnya memiliki buku-buku teks perkuliahan terbitan luar negeri yang telah menjadi rujukan utama dalam setiap mata kuliah. Sehingga sebagai jalan alternatif untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan penggandaan fotocopy atau mencari eBook “gratisan” di Internet, itu pun kalau ada. Masalah utama yang dihadapi dalam hal ini adalah karena harga buku-buku luar negeri tersebut masih tergolong mahal untuk ukuran kantong perguruan tinggi/dosen/mahasiswa di Indonesia.
Bayangkan saja, untuk satu buah buku teks asli terbitan dari salah satu penerbit di Amerika Serikat rata-rata berkisar Rp. 500.000-an s/d Rp. 1.000.000-an bila dikurskan ke rupiah! Sehingga sangat jauh fikiran kampus-kampus di negeri kita untuk membeli buku-buku tersebut dalam jumlah banyak. Paling-paling hanya dibeli satu lalu difotocopy. Itu pun tentu buku-buku utama dan penting.
Akan tetapi sebenarnya kalau diperhatikan, terutama yang pernah kami amati adalah buku-buku teks ilmu komputer ada buku-buku asli impor tetap harganya sangat terjangkau dan dari penerbit yang sama, yang menerbitkan buku yang sama dengan yang harganya mahal tersebut. Namun bedanya ternyata proses pencetakannya di negara lain, sebagai contoh yang kami amati adalah terbitannya di India, Singapore, dll yang rata-rata dari negara berkembang.
Awalnya kami cukup heran kenapa bisa mereka membuat edisi buku yang jauh lebih murah dari aslinya? Ternyata dari diskusi dan tanya-tanya didapatkan jawaban alasan yang cukup masuk akal yaitu adanya LOBI negara/pemerintah langsung yang bersangkutan dengan PENERBIT asli tersebut! Adapun perjanjian yang dibuat dari kedua lembaga tersebut di antaranya adalah buku tersebut hanya boleh diterbitkan dan didistribusikan serta diperjualbelikan hanya di wilayah teritori negara tersebut. Dan karena perjanjian ini dilakukan oleh negara, maka perjanjian tersebut paling tidak bisa dijalankan dengan maksimal karena adanya proteksi langsung oleh pemerintah. Sehingga dengan perjanjian model seperti itu harga buku yang dikenakan ke warga negara/perguruan tingginya bisa terjangkau karena disesuaikan dengan daya beli mereka/setempat. Tetapi tentu saja jangan harap kualitas (fisik) buku tersebut bisa setara dengan yang asli/edisi mahalnya, karena kertas yang digunakan memang beda kelas dan juga di sampul bukunya ada tulisan Low Price Edition atau yang sejenisnya.
Dari penjelasan singkat di sana, maka kalau Pemerintah kita Republik Indonesia benar-benar serius untuk memajukan pendidikan dan kualitas SDM nya di sektor ini. Salah satu langkah strategis dan konkrit yang bisa diwujudkan adalah dengan bisa menggandeng penerbit-penerbit besar tersebut untuk mau memberikan ijin/lisensi untuk menerbitkan buku-buku teks mereka dalam edisi murah/terjangkau dan diterbitkan di Indonesia langsung. Sehingga masyarakat kita bisa dengan mudah memiliki buku-buku berkualitas dengan harga yang terjangkau dan legal. Kalau untuk melobi HUTANG luar negeri saja bisa cepat dan jumlahnya besar, maka untuk hanya melobi sebuah perusahaan penerbitan luar negeri kami pikir tidak akan terlalu sulit. Kami tunggu langkah konkritmu pemerintahku….

Perkembangan Toko Buku Online


Sebagian besar dari kita sudah meyakini bahwa masa depan adalah masanya dunia online, dunia cyber atau Internet. Seluruh aktivitas sehari-hari manusia sekarang sebagian besar telah dihabiskan di depan layar monitor,gadget dan piranti komputer lainnya. Kegiatan yang dihabiskan di dunia maya tersebut beragam sekali seperti halnya di dunia nyata, bisnis, pendidikan, sosial, politik, games bahkan untuk kegiatan yang bersifat fun dan kesenangan.

Dengan semakin bertambah pesatnya masyarakat penduduk dunia maya semakin pula menggeser seluruh perilaku keseharian masyarakat yang biasanya dilakukan secara offline menjadi online. Hal ini pula lah yang tidak lama lagi akan dialami oleh bisnis penjualan buku. Selama ini penjualan buku dilakukan oleh toko-toko buku yang tersebar di seluruh penjuru kota. Hampir bisa kita temukan di setiap kota pasti memiliki toko buku, baik yang kelas menengah atas maupun kelas kaki lima. Setiap hari para pembeli yang ingin mendapatkan buku harus melakukannya dengan mengunjungi toko buku tersebut. Setelah masuk ke toko akan dihadapkan dengan bertumpuk-tumpuk buku yang memenuhi rak-rak toko, yang dijamin akan membuat bingung bagi kita yang pertama kali berkunjung ke toko buku tersebut. 


Untunglah untuk menghilangkan kebinbungan calon pembeli, setiap toko buku ditata dan diatur sedemikian rupa agar memudahkan pengunjungnya dalam mencari buku, yaitu dengan cara membuat pengelompokan buku berdasarkan kategorinya. Sehingga dengan begitu pengunjung lebih terarah dan mudah mencari buku yang diinginkan. Akan tetapi masalahnya tidak berhenti sampai di sini. Walaupun sudah dikelompokkan sedemikian rupa, untuk mendapatkan langsung buku yang dituju tetap butuh perjuangan yaitu dengan membolak balik satu per satu buku yang ada di rak buku. Sehingga akan membutuhkan sekian waktu plus kepala yang rada pusing karena harus menjelajahi satu per satu buku-buku yang ada hingga mendapatkan buku yang benar-benar dicari. Hmmm, suatu perjuangan yang tidak mudah bukan :) Tetapi ya ini lah seni dalam membeli buku bukan…
Oke, sekarang coba kita lihat bagaimana perilaku konsumen buku di dalam dunia maya. Kita lihat saat ini banyak sekali toko buku-toko buku online yang bermunculan sejak awal tahun 2000-an. Kalau di luar negeri sudah ada rajanya toko buku online yaitu Amazon. Di Indonesia ada beberapa pionir pemimpin pasar seperti kutukutubuku.com, bukukita.com, bukabuku.com dan masih banyak lagi yang lainnya, termasuk gresmedia yang baru muncul belakangan.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. GRESMEDIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger